Bumi masih berputar



LAGI KESEL

Gw ni orangnya jarang kesel apalagi marah kalo ga bener-bener keterlaluan. Biar dimarahin atau dikasarin orang pun gw pasti rethink seobjektif mungkin apa memang pantes gw dimarahi, apa gw emang melakukan kesalahan itu. Gw juga jarang marah ke orang kalo emang ga bener-bener keterlaluan.

Semisal aku telat. Karena bangun kesiangan atau ban bocor atau habis jaga semalaman atau rumahku habis kecurian atau apalah, tetap gw harus datang tepat waktu. Ga perlu aku beralasan dan melakukan pembelaan-pembelaan.  La wong memang salahku. Itu dapurku. Berarti gw layak dihukum, terima saja. Emang kewajibanku datang jam segitu.

Semisal gw habis disetrap atau ujian gak bisa atau apalah. Tapi ketika menghadap pasien lagi, aku harus tetap tersenyum dan melakukan pemeriksaan sebaik mungkin, seolah ga ada apa-apa. Mereka ga perlu tau masalahku. Itu dapurku.

Kali ini gw kesel, asli kesel. 30 jam gw hidup di RS, pulang ke rumah banyak yang musti dikerjain: nyuci baju, beres-beres, ngetik, persiapan besok ke RS lagi. Pendeknya, Buat kumpulin energi dan siap-siap. Tapi gimana kalo mati lampu? Asli bikin gw lumpuh dan ga produktif.

Ada apa sih dengan PLN sini? Besi tower dicuri? Krisis solar? Mesin pembangkit rusak? Yang aku lihat itu semua masalah intern mereka. Aku, masyarakat, selama aku bayar dan melakukan kewajibanku, aku menuntut hakku. Kayaknya orang-orang PLN nih perlu belajar deh dengan dosen-dosenku.

Liburan kemarin aku ke PLTU Paiton Probolinggo, liat mesin-mesin dan ruang kerja mereka. Asli keren. Emang sih ga bisa disamain, tapi demi melihat batu bara setinggi gunung gw tanya: Mas, ni batu bara dari mana? Dari tempat kamu, Banjarmasin. Sediiiiiihhhhh deh. Kita memasok batubara kesana buat bahan bakar listrik mereka yang nyaris tidak pernah mengalami masalah byarpet kayak gini, tapi kita sendiri?  Tobat gw.  Kita kena debunya. Kita kena sakit paru-parunya. Tapi kita ga ikut menikmati keuntungannya. Sumber daya alam kita sendiri. Sekali lagi, sedih gw.

Banjarmasin bungas? Re-think it, baby.

Iklan

Trackbacks & Pingbacks

Komentar

  1. * ١ظңựתּ says:

    Kami di Sumsel juga gitu. Komputer di kantor kami nih udah rusak berat semua gara naik turun terus. Alat-alat harga jutaan ampe puluhan juta nyaris kebakar gara-gara tegangannya gak stabil 210 – 240 V. Stabilizer bisa bunyi seharian goyan-goyang terus.
    Belum lagi kalo mereka rugi kita semua mesti ikut bayar kerugian mereka yang duitnya didapat dari pajak. Kalo untung mereka nikmati sendiri bagi-bagi bonus gede-gedean… jangankan untung, rugi aja mereka bagi-bagi bonus.
    Apalagi sikap arogan mereka, kita telat dikit aja langsung putus. Eh mereka mati berjam-jam pun kadang gak bilang apa-apa. Grr……

    | Balas Ditulis 9 years, 9 months ago
  2. * benbego says:

    Ya maklumin aja. memang beginilah indonesia. 😦

    | Balas Ditulis 9 years, 9 months ago
  3. * kudzi says:

    Oh.. orang banjar to ?
    saya kecil disana loh 3 tahunan, walau keluarga saya cuma pendatang….

    SD saya disana di SDN Karang Mekar 2…
    Masih ada gak ya ???

    Btw, Salam kenal…

    | Balas Ditulis 9 years, 9 months ago
  4. * hendra says:

    allow, krna saya jg urang asli bnja n merasakan bngt gmna glpnya bnjar klo kena giliran pdam. kesal bngt. pdahal plta riam kanan kan di bjb. tapi sering bngt mati2.

    alhamdulillah skrang saya dapat kesempatan buat magang 1 tahun di jerman. disini saya banyak mendapat pengalaman terutama banget tentng efisiensi energi dan listrik. walaupun jerman tidak kaya akan sumber daya alam, namun mereka sangat memperhatikan sekali masalah energi. jika tidak benar2 perlu mereka tidak akan menghmbur-hamburkan energi yang ada. banyak sumber daya energi yang terbarukan dipakai disamping tenaga nuklir. hasilnya selama disini tidak pernah sekalipun saya merasakan gelapnya dunia karena kena giliran pemadaman. pada hal semua peralatan disini memakai listrik. memasak pun memakai listrik. tapi tidak pernah sampai kekurangan daya listrik.

    hari ini tadi. saya dan mahasiswa lainnya diundang ke Ravensburg untuk mengikuti seminar tentang energi. disana kami di bagi beberapa kelompok dan diajak berkeliling ke beberapa tempat. di kelompok saya, kami mengunjungi peternakan, sekolah, dan Rumah sakit yang semuanya menggunakan berbagai macam energi terbarukan baik untuk kebutuhan bensin, listrik, gas dan pemanas. semunya benar2 menambah wawasan saya.

    dari yang saya amati tadi, saya berpendapat sebenarnya indonesia atau kalsel sekalipun sangat mungkin untuk melakukan hal seperti itu. apalagi kita memiliki sumber daya yang melimpah. dengan kata lain, seharusnya kita bisa lebih baik dari mereka. namun pada kenyataannya tidak demikian.

    semoga ini bisa jadi bahan renungan kita semua. semoga apa yang saya peroleh ini bisa saya terapkan nantinya demi kemajuan kalimantan selatan dimasa yang akan datang. amien…

    | Balas Ditulis 9 years, 9 months ago
  5. * ١ظңựתּ says:

    Benar, sekalipun sumber energi kita berlimpah tetapi apabila menusianya tidak bisa mengelola dengan tepat yang terjadi adalah pemborosan yang tidak perlu. Jangankan kota kecil, Jakarta pun, bahkan bandara internasional kita pernah mengalami pemadaman listrik.
    Pengelolaan yang baik dan bijaksana akan membawa hasil yang luar biasa dibandingkan asal jadi saja.
    Sama halnya waktu kita menikmati kemacetan luar biasa di Jakarta yang hampir bikin gila itu. Seandainya ada sistem transportasi masa yang handal dan dikelola dengan profesional pasti kemacetan gak penting macam begitu bisa dieliminasi.
    Selain itu mental manusia juga perlu dibina biar gak mementingkan diri sendiri, punya kepedulian sosial. Tuh para petinggi, wakil, dan raja daerah sibuknya cuma di Jakarta aja, lupa ngurusin daerahnya. Mereka keenakan di istananya masing-masing, jauh dari jeritan rakyat yang udah pada histeris.

    | Balas Ditulis 9 years, 9 months ago
  6. * yetty says:

    Aku pun herman sodara-sodara. Mau dibawa kemana bangsa kita kalo begini terus. Hidup Indonesia!! Hidup reformasi!! *demo*

    | Balas Ditulis 9 years, 8 months ago
  7. * mina says:

    tapi kemudian coba bandingkan dengan aceh atau medan, yet 🙂 aceh tu sehari bisa sejuta kali mati. nyala sejam, mati beberapa jam, nyala sejam, mati, nyala, mati, nyala, silakan bunuh diri, selain semua alat elektronik kita sudah mati bunuh diri sendiri. ada apa ya dengan pemerintah? memberikan hajat hidup orang banyak saja kesulitan…..

    | Balas Ditulis 9 years, 8 months ago
  8. * hendra says:

    yupe semua komentar anda semua benar adanya..

    tapi bukan saatnya sekarang kita hanya menyalahkan pemerintah saja.

    karena pemerintah dan kita semua adalah satu kesatuan, satu bangsa

    saya pikir kita tidak hanya bisa menyalahkan tapi lebih dari itu bisa memberikan

    solusi yang terbaik bagi bangsa kita indonesia tercinta…

    dan ditangan generasi muda seperti kitalah nasib bangsa kita akan di teruskan..

    apakah kita akan masih tetap seperti sekrang atau malah lebih buruk lagi atau lebih baik..

    kita harapkn tentu saja bisa lebih baik. dan itu harus dengan kerja keras dan bukan saling menyalahkan satu sama lain, namun dengan kerja sama yng baik antara pemerintah yang berwenang dengan rakyat dan semua pihak yang terkait..

    | Balas Ditulis 9 years, 8 months ago
  9. * ١ظңựתּ says:

    Seperti lingkaran setan yang selalu berputar. Siapa yang salah, rakyat ataukan pemerintah? Pemerintah asalnya juga rakyat, rakyat sendiri yang melahirkan pemerintah. Sedangkan Rakyat dibentuk oleh pemerintah, pemerintah menentukan seperti apa masyarakatnya. Susyah deh…. disekitar kita orang-orang mau enaknya sendiri-sendiri, serba malas dan hipokrit, hobi mencari pembenaran. Yah, akhirnya yang duduk di pemerintahan juga begitu-begituan juga orangnya. Saya sangat merasakan hal ini sekarang, dan mimpi buruk itu benar-benar nyata.

    Saya percaya pada sistem. Kita tidak mungkin mengandalkan manusia saja ditengah kekacauan bangsa ini. Kita perlu sistem yang kuat, tegas, dan jelas. Kecuali mukjizat atau azab setahu saya cuma sistem yang sanggup diberi tugas berat mengatasi kekacauan secara cepat dan tepat. Masalahnya sekarang siapakah yang bisa membangunkan raksasa itu.

    | Balas Ditulis 9 years, 8 months ago
  10. * hendra says:

    alow semua, ..
    maaf klo saya terlalu banyak memberikan komentar disini.
    tapi jujur saja, saya sangat tertarik dengan opini yang bergulir disini.

    sangat menarik sekali. entah yang salah sapa, pemerintah atau rakyat?? atau sistemnya yang salah??
    setau saya sistem diindonesia sudah banyak di coba, tapi memang sistem tidak akan berjalan jika tidak ada yang menjalankannya dengan benar, sekali lagi ada lingkaran setan.. heheh..

    tapi saya tidak perduli dngn itu semua, entah yang salah rakyat atau pemerintah semuanya yang jelas merasakan akibatnya. contohnya: listrik padam dirasakan terus oleh semuanya.

    oleh karena itu saya kira tidak penting mencari salah sapa?? yang penting skrng adalah “tindakan” jangan hanya “opini” belaka.

    tidak usahlah membangunkan “raksasa” segala, setiap orang punya peran dan kemampuannya masing2. cukup dimulai dari diri sendiri.
    kita perlu energi untuk beraktifitas, sudahkah kita berhemat dengan energi yang kita miliki?? adakah sumber energi lain yang lebih baik bisa kita gunakan?? sampai sejauh mana kepedulian kita terhadap energi dan lingkungan kita. apa yang bisa kita perbuat untuk pemenuhan energi di lingkungan kita. sudahkah semua usaha kita itu maksimal??
    semua jawabannya hanya anda semua yang bisa menjawabnya. dan mengerjakannya..

    | Balas Ditulis 9 years, 8 months ago
  11. * Tokage says:

    yah.. begitulah. Mulai dari diri sendir sih iya, saya amat setuju sekali.
    Tentu saja kita harus melakukan penghematan dalam kehidupan sehari-hari, tapi kita juga harus peduli pada lingkungan yang lebih luas yaitu masyarakat. Satu atau dua orang kecil tidak akan bisa menggeser sebuah bukit. Kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Kita harus mengajak orang lain untuk melakukannya juga, karena ini hidup kita bersama.
    Bayangkan saja misalnya lalu-lintas di jalan raya Indonesia. Kita semua pasti selalu berusaha berkendara secara aman. Akan tetapi pada kenyataannya saya sering prihatin dengan angka kecelakaan yang tinggi… jalanan yang berdarah. Tentu kita yang waras akan berhati-hati, itu pasti. Saya hanya berharap kalau saja saya bisa ikut menyumbangkan gagasan saya, bahwa sistem lalu-lintas ini perlu perbaikan begini dan begitu. Bukan saya hanya bisa menyalahkan, tetapi ini wujud kepedulian kita semua. Minimal tulisan ini lah. Hehehe… mungkin saya sok tau, tapi kita semua tentu berharap pada kehidupan yang lebih baik.
    Memang sih berharap tulisan ini bisa membangunkan sistem yang besar rasanya terlalu naif. Tetapi benih ini boleh disebarkan, dengan harapan semoga ada orang berpengaruh yang membacanya dan sadar betapa pentingnya semua itu.
    Saya tertarik pada sistem, dan saya percaya. Sebuah komputer hebat hanya akan jadi rongsokan tanpa sistem operasi. Dua komputer yang setara salah satunya akan jadi lebih efektif dan efisien dengan operating system yang handal, tanpa bugs yang membuat mereka bingung atau crash.
    Seperti kita bandingkan kalau orang yang di Indonesia bisa buang sampah seenaknya di jalanan, tapi ketika datang di Singapura bahkan meludah pun dia berhati-hati. Itulah sistem, dan pengaruhnya benar-benar nyata. 🙂
    Yah, mungkin kita tidak memetik buahnya sekarang, seperti sistem irigasi Belanda yang bisa kita nikmati ratusan tahun setelah dibangun. Kita semua berharap pada perbaikan, bukan saling menyalahkan tapi saling mengingatkan… sukur-sukur didengar. 🙂

    | Balas Ditulis 9 years, 8 months ago
  12. * Tokage says:

    btw tanpa OS komputer hebat bisa beroperasi loh… tapi bagaimanapun setahu saya sekalipun tanpa OS mereka tetap punya punya sistem yang hebat juga sekalipun bukan dinamakan Operating System.

    | Balas Ditulis 9 years, 8 months ago
  13. * dwi says:

    Bravo Hemat Energi!!!
    Banyak sudah kita belajar ke berbagai belahan dunia, study banding kemana-mana bahkan mengundang pakar-pakar energi untuk menyumbangkan pemikirannya, akan tetapi selama kita masih belum ada pembangunan mental yang mendasar serta pemahaman sejak dini, saya pastikan kita akan bakalan selamanya seperti ini.
    Memang benar kata ulama yang menyarankan kita berubah tapi perubahan yang dilakukan hanya berubah ditempat, tak ada kemajuan sama sekali efek nya mudah sekali diterka.
    Dan banyak sekali kendala baikdi birokrasi maupun rakyat sendiri yang terbiasa terturuti kemauannya dan mengedepankan kepentingan sendiri, sementara mahasiswa yang dijadikan tumpuan perubahan malah banyak yang salah mengerti karena kurangnya inisiatif untuk mencari akar permasalahan sehingga bisa memberikan alternatif pemecahan yang lebih baik.
    Sungguh saya mencemaskan masa depan bangsa ini.

    Demikian sekelumit kerisauan hati seorang WNI.

    | Balas Ditulis 9 years, 1 month ago


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: